Perkembangan Emosional Pada Bayi dan Anak

Perkembangan Emosional Pada Bayi dan Anak
Perkembangan Emosional Pada Bayi dan Anak

I.       Emosi adalah cara seseorang merasakan sesuatu pada dirinya pada saat ia mengalami situasi emosional dan dapat di ekspresikan melalui bahasa ekspresi wajah dan body language.

Bentuk ungkapan emosi yang bisa dirasakan manusia:

1.   Suasana hati

Sangat mempengaruhi perilaku seorang yang disebabkan perubahan susasana hati dan tidak selalu ada hubungannya dengan kejadian lingkungan.

2.   Emosi yang umumya terjadi dalam waktu pendek tergantu kejadian yang dialaminya dan penyebabnya diketahui dengan pasti.

    Berbagai emosi dapat digolongkan

a.   Rasa senang

b.   Rasa takut dan cemas

c.   Rasa marah dan benci

d.   Sedih dan duka cita

    Perkembangan emosional anak anak sama pentingnya dengan perkembangan fisik dan motorik. Interaksi anak dengan orang tua terutama ibu sangat mempengaruhi perkembangan sosial emosional anak termasuk mengatur dirinya sendiri.


II.       Perkembangan emosi pada anak

3 bulan            : Umumnya anak mampu menenangkan diri sendiri menangis menjadi tenang dengan bujukan atau di peluk ibu.

 

5 bulan            : Menjalin ikatan

memperlihatkan reaksi emosi pada pengasuh utama (marah, senang dsb, dengan senyum, ketawa ketika bahagia). Atau mengerutkan alis, menendang – nendang tangan dan kaki, menangis ketika tidak senang.

 

9 bulan            : Komunikasi 2 arah

Mulai berinteraksi secara sadar sudah meulai meberanikan tanda – tanda/ isyarat dan beraksi secara sadar dan lebih terfokus.

Misalkan: Pengasuh mengulurkan tangan untuk mengangkat anak – anak mengulurkan tangan minta diangkat.

 

12 bulan                    : Pengembangan rasa diri

anak sudah lebih bebas bergerak dan mampu melakukan gerakan lebih kompleks.

Misalkan: Raut muka kepada pengasuh ketika marah, sedih, tertawa akan berbeda.

 

18 bulan                    : Peningkatan kompleks ras diri

Anak menunjukan kemampuan berkomunikasi yang lebih menjabarkan urutan/ tahapan.

Misalkan: Menarik tangan pengasuh berjalan kelemari es, vokalisasi, menunjuk dan bereaksi terhadap pertanyaan membuka lemari es dan mengeluarkan makanan yang diinginkan.

 

24 bulan                    : Memperlihatkan tanda awal ide- ide yang sifatnya emosinal. Bersama pengasuh mampu menyusun pola permainan pura – pura paling sedikit menyangkut satu ide (misalnya menyuapi boneka). Dalam hal ini ide itu tidak perlu berkaitan satu sama lain secara logis.

 

42 – 48 bulan                  : Bulan – berpikir emosional

Mampu menjabarkan bagaimana, mengapa, dan kapan yang akan memberikan pengertian lebih mendalam pada permainan cara bermain dan berkomunikasi.

Contoh: Kenapa putri dikurung oleh penjahat? Bagaimana putri dapat keluar dari tahanan?

 

 

III.     Kecerdasan Emosi


Bagaimana cara mengembangkan emosi pada anak?


1.   Kemampuan untuk mengenali emosi diri

Ajarkan anak untuk memahami perasaan – perasaan yang dialaminya.

2.   Kemampuan untuk mengelola dan mengekpresikan dengan tepat.

Latihan anak untuk mengelola emosi, contoh: meredakan emosi marah dan kecewa.

3.   Kemampuan untuk memotivasi diri sendiri.

Orang tua perlu menanamkan optimisme pada anak, mennjadikan anak tidak mudah putus asa.

4.   Kemampuan untuk memahami perasaan orang lain.

Bangkitkan humor dalam keluarga, humor merupakan peluru dinding pembatas generasi yang menakjubkan .

Keberhasilan pengembangan kecerdasan emosi sangat dipengaruhi bagaimana gaya orang tua menanamkan latihan emosi kepada anak – anak.

 

Menurut Daniel Goleman, setiap individu memiliki perbedaan pertumbuhan dimasa lalu dan pertumbuhan setiap individu akan membentuk empat gaya menjadi orang tua.

 

                    ·          Orang tua yang mengabaikan ciri – ciri utamanya :

Memperlakukan perasaan – perasaan anak sebagai sesuatu yang tidak penting dan remeh.

Contoh: Rangga datang dan berkata bahwa temannya mengambil mainnanya: ibunya berkata “barangkali dia tidak sengaja tenang saja.”

                    ·          Orang tua yang tidak menyetujui

Menghardik, menerbitkan atau menghukum anak karna mengucapkan emosi.

Contoh: Robeknya buku kamu tidak pantas kamu tangisi hanya buang – buang waktu saja.

                    ·          Orang tua membiarkan saja

Dengan bebas menerima semua ungkapan hati anak.

Contoh: Ketika seorang anak menyatakan perasaan marahnya karena dipukul teman, ayahnya hanya berkata kamu adalah segala – galanya bagi kami.

                    ·          Orang tua pelatih emosi

Sabar menghabiskan waktu dengan anak yang sedang sedih tidak takut marah.

Contoh: Seorang ibu mendengarkan putranya saat sedang marah dengan sabar, ibu hanya ingin agar anak – anaknya marah dengan cara – cara tidak merusak, jadi mereka hanya saling baik hati dan membina hubungan yang baik.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar