“TULIKAN” TELINGAMU!

“TULIKAN” TELINGAMU!
“TULIKAN” TELINGAMU!


Pada suatu hari ada segerombolan katak-katak kecil menggelar lomba lari. Tujuannya adalah untuk menaiki sebuah puncak menara yang sangat tinggi.

Penonton berkumpul bersama mengelilingi menara untuk menyaksikan perlombaan. Sebenarnya, tak satupun penonton benar-benar percaya bahwa katak-katak kecil itu akan bisa mencapai puncak menara.

Terdengar suara “Oh, jalannya terlalu sulit! Mereka TIDAK AKAN PERNAH sampai ke puncak”. atau “Tidak ada kesempatan berhasil. Menaranya terlalu tinggi!”

Dan akhirnya, katak-katak kecil mulai berjatuhan satu persatu, kecuali mereka yang tetap semangat menaiki menara. Perlahan-lahan semakin tinggi...dan semakin tinggi.

Penonton terus bersorak, “Terlalu sulit! Tak seorangpun akan berhasil!”
Lalu, lebih banyak lagi katak kecil yang lelah dan menyerah.
Tapi, ada satu katak yang melanjutkan hingga semakin tinggi dan tinggi.
Dia tidak menyerah!

Akhirnya ketika yang lain telah menyerah untuk menaiki menara, ada satu katak kecil yang terus berusaha keras mencapai puncak menara. Dia menjadi satu-satunya yang berhasil mencapai puncak!

Semua katak kecil yang lain dan penonton ingin tahu, bagaimana katak ini bisa melakukannya?
Si Katak tidak menjawab. Dia diam saja. Ternyata, katak yang menjadi pemenang itu TULI! Itulah yang menjadi kunci keberhasilannya.

===
“Mana mungkin anak down syndrome bisa mengejar mimpinya?”
“Terima nasib aja. Anaknya memang IQ-nya jongkok!”
Ayah Bunda,
Dalam kehidupan ini ada banyak suara miring bernada minor di sekitar kita. Tanpa disadari, suara-suara negatif tersebut membuat kita jadi tertekan dan patah semangat. Terlebih untuk para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK). Kenyataan bahwa anaknya dianggap tidak mampu ataupun bodoh, dikucilkan hingga dianggap berbahaya oleh orang-orang yang tidak mengerti akan dunia ABK, pasti membuat hati orang tua manapun tersayat pedih.

Oleh karena itu, kadang kita perlu “menulikan” telinga dengan terus fokus melakukan usaha yang terbaik untuk anak kita. Jangan biarkan orang lain menjadi penentu kebahagiaan Ayah Bunda dan Ananda. Karena bagaimanapun kondisi anak kita, dia dihadirkan oleh Tuhan sebagai hadiah indah pelengkap kebahagiaan di keluarga kita. Syukurilah itu. Namun, tentu saja hal ini perlu dibarengi dengan penerimaan dari orang tua terhadap kondisi buah hati. Jangan sampai, orang tua menghindari kenyataan bahwa Ananda memerlukan penanganan yang lebih khusus.

Bangunlah komunikasi yang baik di dalam keluarga. Temuilah orang yang ahli di bidangnya untuk membantu kesulitan Ayah Bunda dalam membesarkan anak berkebutuhan khusus. Komunikasi dan pemahaman yang baik tentunya akan sangat membantu Ayah Bunda menyiapkan Ananda untuk menjadi pemenang dalam hidup mereka kelak.

Ada banyak anak-anak berkebutuhan khusus yang berhasil dalam hidupnya. Misalnya saja, Samuel Santoso, seorang anak berkebutuhan khusus yang sukses memperoleh penghargaan dari MURI sebagai pelukis penyandang down syndrome yang pertama menggelar 50 karya lukisan dalam pameran lukisannya. Atau  Noelia Garella, guru Taman Kanak-Kanak di Argentina yang menderita down syndrome namun berhasil meraih gelar sarjana untuk bidang ekonomi dan manajemen organisasi di bidang pariwisata. Bahkan, seorang Michael Rosihan Yacub, remaja berusia 20 tahun yang memiliki IQ “hanya” 35, berhasil meraih rekor MURI dengan menjadi satu-satunya pegolf muda yang memiliki down syndrome dan bertanding melawan para pegolf normal.
Jadi apapun kondisi buah hati kita, tetap semangat ya, Ayah Bunda! Gali terus potensi Ananda dan dukung dia dalam mencapai mimpinya. Never Give Up!
 
===
Jika Ayah Bunda ingin berkonsultasi seputar dunia tumbuh kembang anak, silakan kirim pesan di inbox Fan Page Facebook kami QQ Mitra Ananda atau email ke qqmitraananda@yahoo.com.
Ikuti terus artikel bermanfaat dengan topik beragam di Fan Page Facebook kami dan juga blog www.qqmitraananda.com
Silakan share artikel ini untuk kebermanfaatan yang lebih luas. Terima kasih.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar