Mengapa Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus Lebih Rentan Burnout?


Penelitian terbaru menunjukkan bahwa orang tua — khususnya ibu — yang memiliki anak berkebutuhan khusus menghadapi risiko burnout jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang tua dari anak tanpa kebutuhan khusus. Burnout ini bukan sekadar kelelahan biasa, tetapi kondisi psikologis yang mencakup kelelahan fisik, emosional, kejenuhan peran, hingga jarak emosional dengan anak mereka.

Artikel ini merangkum temuan penting dari penelitian Findling, Barnoy, & Itzhaki (2023) tentang faktor-faktor yang membuat orang tua anak berkebutuhan khusus lebih rentan mengalami burnout.


1. Tingkat Burnout Mereka Lebih Tinggi Secara Signifikan

Dalam studi yang melibatkan 98 ibu, ditemukan bahwa ibu dari anak berkebutuhan khusus memiliki skor parental burnout jauh lebih tinggi dibandingkan ibu lainnya.

Burnout ini terlihat pada empat dimensi utama:

kelelahan fisik dan emosional,

kejenuhan terhadap peran orang tua,

jarak emosional dari anak,

dan perasaan bahwa diri mereka sebagai orang tua kini “lebih buruk” dibanding masa lalu.

Perbedaan paling besar ada pada dimensi kelelahan fisik dan emosional, yang menunjukkan betapa beratnya tuntutan pengasuhan yang harus mereka tanggung.


2. Beban Terapi dan Pengasuhan Lebih Berat

Ibu dengan anak berkebutuhan khusus melaporkan beban terapi (burden of treatment) yang lebih tinggi.

Beban ini mencakup:

perawatan jangka panjang,

kebutuhan terapi intensif,

tuntutan mengatur perilaku,

pendampingan komunikasi,

serta tekanan emosional dan sosial yang menyertai proses ini.

Data menunjukkan bahwa semakin tinggi beban terapi yang dipersepsikan, semakin tinggi tingkat burnout, dan korelasi ini lebih kuat pada ibu dari anak berkebutuhan khusus.


3. Tekanan Mengelola Emosi Lebih Tinggi (Emotion Work)

Temuan kunci penelitian ini adalah bahwa ibu anak berkebutuhan khusus harus melakukan Emotion Work yang lebih dalam.

Emotion Work adalah:

Upaya menyesuaikan emosi pribadi agar sesuai dengan emosi “yang seharusnya ditampilkan” menurut tuntutan sosial.

Ibu anak berkebutuhan khusus:

lebih sering harus “menunjukkan ketenangan, kesabaran, atau harapan” meskipun sedang kelelahan,

merasakan kesenjangan lebih besar antara emosi yang dirasakan dengan emosi yang dianggap harus ditampilkan,

dan semakin tinggi Emotion Work → semakin tinggi burnout.

Artinya, tekanan emosional yang tidak terlihat secara langsung ini menjadi faktor risiko signifikan bagi kesehatan mental orang tua.


4. Kesehatan Fisik Lebih Banyak Terdampak

Penelitian juga menemukan bahwa ibu dari anak berkebutuhan khusus:

lebih sering membutuhkan layanan kesehatan,

lebih banyak melaporkan gejala fisik akibat stres,

dan lebih sering mengalami gangguan kesehatan dalam keseharian.

Tekanan fisik dan emosional yang berlangsung terus-menerus membuat mereka lebih rentan mengalami kelelahan berkepanjangan.


5. Emosi Positif Lebih Sedikit Dialami

Meskipun tetap merasakan emosi positif seperti harapan dan kegembiraan, ibu anak berkebutuhan khusus secara umum:

lebih jarang merasakan emosi positif lain seperti kebanggaan atau rasa syukur,

dan merasakan lebih banyak tekanan emosional.

Penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi emosi positif, semakin rendah risiko burnout. Maka ketika emosi positif berkurang, burnout lebih mudah muncul.


6. Kombinasi Faktor-Faktor Ini Saling Memperkuat

Penelitian menemukan hubungan yang konsisten:

beban terapi → meningkatkan burnout,

Emotion Work → meningkatkan burnout,

beban terapi → memperkuat tekanan emosional,

lebih banyak emosi negatif → meningkatkan emotional distancing dari anak,

lebih sedikit emosi positif → burnout meningkat.

Pada akhirnya, tekanan fisik, emosional, dan sosial saling berinteraksi sehingga meningkatkan risiko burnout pada orang tua, terutama ibu anak berkebutuhan khusus.


Kesimpulan

Orang tua anak berkebutuhan khusus lebih rentan burnout karena kombinasi beban terapi yang lebih berat, tuntutan emosional yang lebih besar, tekanan sosial untuk “selalu kuat”, serta dampak nyata terhadap kesehatan fisik dan mental mereka.

Penelitian Findling, Barnoy, & Itzhaki (2023) menegaskan bahwa parental burnout pada orang tua anak berkebutuhan khusus bukan terjadi karena kurangnya cinta atau kemampuan, tetapi karena tuntutan pengasuhan yang objektif lebih besar dan kurangnya dukungan emosional yang memadai.

Pemahaman ini penting agar masyarakat, tenaga kesehatan, sekolah, dan lingkungan sekitar dapat memberikan dukungan yang lebih baik bagi keluarga yang membesarkan anak berkebutuhan khusus.


Referensi

Findling, Y., Barnoy, S. & Itzhaki, M. (2023). Burden of treatment, emotion work and parental burnout of mothers to children with or without special needs: A pilot study. Current Psychology, 42, 19273–19285. https://doi.org/10.1007/s12144-022-03074-2