PERAN AYAH DALAM MENDIDIK ANAK


Photo by Hannah Nelson from Pexels


Kehadiran sosok ayah dalam keluarga bisa mempunyai kedudukan dalam kesuksesan anak. Sebab itulah peran penting ayah dalam mendidik anak tidak lagi terbantahkan. Idealnya, dalam mengurus serta mendidik anak, wajib terdapat kerjasama yang sama- sama melengkapi antara ayah serta bunda. Bila perihal tersebut tidak mengizinkan, hingga salah satu pihak sebaiknya merangkap kedatangan pihak lain.

Dalam dialog Kedudukan Ayah dalam Mendidik Anak Usia Dini yang disampaikan Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga, Dr.Sukiman,M.Pd di Surabaya beberapa waktu lalu, bila seseorang ayah menyadari kehadirannya sangat berarti dalam keluarga, pasti saja dia tidak hendak menyia- nyiakan peluang buat sering bersama keluarga serta ikut dalam mengurus dan mendidik anak.” Keterlibatan ayah dalam mendidik anak tidak terbatas dari aspek waktu, namun juga kualitas interaksi serta atensi.

Keterlibatan ini mengaitkan ukuran raga, emosi, social, intelektual, moral, ataupun otoritas,“ jelas Dr. Sukiman, M. Pd. Pada umumnya, figur ayah terikat dengan ketegasan, ketegaran, keuletan serta keperkasaan. Kepribadian inilah yang bisa melengkapi figur bunda yang cenderung lebih lembut, penyayang, teduh serta pendengar yang baik.

Dibalik kepribadian itu, ayah mempunyai kedudukan bagaikan sahabat, pelindung, pelipur lara, tempat bertanya, tempat mencurahkan hati, pemberi pertimbangan, penyemangat, pendukung gagasan, pencerah, pemberi ketenangan serta sebagainya. Ayah pula bagaikan guru, fasilitator, motivator, penasihat dan role model untuk anaknya.

Kedudukan ayah pula dapat bagaikan penjamin, pengendali dan pemenuhan kebutuhan.” Kedudukan ayah juga bagaikan pengganti kedudukan bunda. Apa yang bunda jalani pula dapat dicoba oleh ayah tanpa wajib membeda- bedakan tugasnya,”. Berikut bentuk- bentuk keterlibatan ayah yang dapat dicoba buat anaknya:

 

1.Pembelajaran bisa dicoba sepanjang waktu selagi terdapat peluang dari bangun pagi sampai menjelang tidur malam, terlebih lagi dikala anak terjaga dari tidurnya. Jangan sungkan buat mengganti popok, membuatkan susu, mengantar anak ke kamar kecil ataupun membacakan buku cerita supaya anak tidur lelap kembali.


2.Siang ataupun sore hari bisa mengajak bermain ataupun kegiatan lain yang diinginkan anak. Bila ayah bekerja siang hari, luangkan untuk berdialog dengan anak melalui sambungan telepon hanya menanyakan lagi apa, gimana kegiatan sepanjang di rumah ataupun di sekolah, sudah makan atau belum dan persoalan ringan yang lain.


3.Pembelajaran di rumah bersifat informal serta fleksibel, sehingga tidak memerlukan agenda ketat. Ayah dapat mengawali kapan saja serta dalam aktivitas apa saja. Dapat sembari bermain, berdialog, ataupun apalagi dikala melaksanakan pekerjaan rumah. Pasti saja aktivitas itu tidak cuma mendekatkan ikatan ayah serta anak tetapi juga meringkankan tugas bunda.


4.Pagi hari, ayah bisa memandikan anak sembari bercengkerama, memakaikan pakaian, mengajak makan pagi, serta mengantar sekolah. Beri sentuhan hangat supaya anak merasa aman bersama ayahnya.


5.Terikat dengan kondisi kesehatan serta gizi anak, ayah selaku kepala keluarga pasti bertanggungjawab untuk memenuhi. Tidak hanya memberikan nafkah, ayah dapat ikut campur memberi anjuran tentang menu yang cocok dengan gizi anak yang terbaik.


6.Malam hari bisa mengajak bermain, bercengkerama, cerita aktivitas hari ini, membacakan buku, mendongeng, menolong mengerjakan pekerjaan rumah serta sebagainya.

 


SUMBER