Tahap Perkembangan Kognitif


Tahapan Perkembangan Kognitif Berdasarkan Teori Piaget


Tahapan perkembangan Piaget merupakan teori yang menunjukkan bahwa anak-anak berkembang melalui 4 tahap belajar yang berbeda.

Teorinya tidak hanya berfokus pada pemahaman bagaimana anak-anak memperoleh pengetahuan, tetapi juga pada pemahaman sifat kecerdasan.

Dilansir dari Positive Psychology, Piaget mengatakan bahwa perkembangan kognitif anak terjadi secara bertahap.

Secara khusus, ia mengemukakan bahwa ketika pemikiran anak-anak berkembang dari satu tahap ke tahap berikutnya, perilaku mereka juga berubah, yang mencerminkan perkembangan kognitif.

Adapun tahapan-tahapan tersebut, meliputi:

 

1. Tahap Sensorimotor (Usia 0 - 2 Tahun)

Pada masa awal kehidupan bayi sejak lahir hingga usia 2 tahun, mereka menggunakan indera dan gerakan tubuh untuk dapat memahami dunia di sekitar mereka.

Itulah sebabnya tahap ini dikenal sebagai tahap sensorimotor.

Menurut Piaget yang dilansir dari WebMD, bayi hanya menyadari apa yang ada di depan mereka.

Mereka fokus pada apa yang mereka lihat, apa yang mereka lakukan, dan interaksi fisik dengan lingkungan terdekat mereka.

Bayi dapat menggunakan panca indera penglihatan, sentuhan, penciuman, rasa, dan pendengaran untuk menjelajahi lingkungan dan tubuh mereka.

Metode komunikasi pertama bayi baru lahir adalah melalui tindakan refleks dasar seperti mengisap, mengayunkan lengan, atau menggelengkan kepala.

Di masa tersebut, bayi mulai mengumpulkan informasi-informasi dasar dan belajar membedakan antara orang, objek, tekstur, dan pemandangan.

Selama tahap ini, anak-anak juga mulai memahami konsep sebab dan akibat.

Mereka mulai mengingat bahwa tindakan tertentu akan memiliki hasil tertentu dan menggunakannya untuk merencanakan tindakan mereka sebelumnya.

Antara usia 7 dan 9 bulan, bayi mulai menyadari bahwa suatu benda ada meskipun mereka tidak dapat melihatnya lagi. Hal tersebut merupakan tanda bahwa memori mereka sedang berkembang.

Setelah bayi mulai merangkak, berdiri, dan berjalan, peningkatan mobilitas fisik mereka mengarah pada perkembangan kognitif yang lebih banyak.

 

2. Tahap Praoperasional (Usia 2–7 Tahun)

Selama tahap ini Si Kecil dapat memikirkan berbagai hal secara simbolis.

Penggunaan bahasa mereka menjadi lebih dewasa. Mereka juga mengembangkan memori dan imajinasi, yang memungkinkan mereka untuk memahami perbedaan antara masa lalu dan masa depan.

Tetapi pemikiran mereka didasarkan pada intuisi dan masih belum sepenuhnya logis.

Mereka belum dapat memahami konsep yang lebih kompleks seperti sebab dan akibat, waktu, dan perbandingan

Melansir dari Medical News Today, adapun 5 perilaku utama yang ditampilkan anak-anak selama periode ini, meliputi:

  • Imitasi

Anak-anak dapat meniru tindakan orang lain.

  • Permainan Simbolik

Anak-anak mulai memberikan karakteristik atau simbol pada objek.

Mereka dapat memproyeksikan properti dari satu objek ke objek lainnya. Misalnya, mereka berpura-pura dan mengganggap tongkat adalah pedang.

  • Menggambar

Imitasi dan permainan simbolik keduanya merupakan elemen penting dari menggambar.

Ini dimulai dalam bentuk coretan dan berkembang menjadi representasi objek dan orang yang lebih akurat.

  • Pencitraan Mental

Anak-anak mulai dapat memvisualisasikan berbagai hal dalam pikiran mereka.

Biasanya, mereka akan lebih sering menanyakan nama dari banyak objek.

  • Menjelaskan Peristiwa Secara Verbal

Perilaku ini menunjukkan anak-anak dapat menggunakan kata-kata untuk menggambarkan peristiwa, orang, atau hal-hal lainnya dari masa lalu.

 

3. Tahap Operasional Konkret (Usia 7–11 Tahun)

Pada tahap ini, anak usia SD dan praremaja, di usia 7 hingga 11 tahun telah menunjukkan penalaran yang logis dan konkret.

Mereka dapat memahami bahwa peristiwa tidak selalu berhubungan dengan mereka dan bahwa orang lain memiliki sudut pandang yang berbeda.

Namun, mereka belum dapat melakukan hal yang sama untuk konsep abstrak atau hipotesis.

 

4. Tahap Operasional Formal (Usia 12 Tahun ke Atas)

Pada tahap akhir perkembangan kognitif ini, anak telah mampu menggunakan simbol-simbol yang berhubungan dengan konsep-konsep abstrak, seperti aljabar dan sains.

Mereka juga dapat memikirkan berbagai hal dengan cara yang sistematis, menghasilkan teori, dan mempertimbangkan kemungkinan.

Ini dikenal sebagai penalaran hipotetis-deduktif yang merupakan bagian penting dari tahap operasional formal.

Seseorang dengan keterampilan ini dapat membayangkan berbagai solusi dan hasil potensial dalam situasi tertentu.

Sebagai contoh, seorang anak pada tahap operasional formal telah dapat memikirkan banyak cara untuk memecahkan satu masalah.

Kemudian memilih opsi terbaik berdasarkan seberapa logis atau suksesnya kemungkinan itu.